Sertifikat Akreditasi Institusi

Similar Posts

  • PPID STAKAT DALAM SELF ASSESMENT QUESTIONARE

    Sekretariat Jenderal Kementerian Agama bekerja sama dengan Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia dalam kegiatan Self Assesment Questionare di UIN Alaudin Makassar pada 6-7 Agustus 2025. Ini bertujuan untuk membantu Perguruan Tinggi di bawah Kementerian Agama dalam pengisian SAQ e-monev KIP pada bulan September 2025 mendatang.

    Rektor UIN Alaudin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis dalam sambutannya menyampaikan bahwa sejatinya informasi itu telah dilaksanakan hanya saja banyak yang tidak terdokumentasi dengan baik. Saat ini, terdata masih banyak Perguruan Tinggi Keagamaan yang masih belum informatif. Itulah mengapa, STAKat Negeri Pontianak juga berusaha untuk memenuhi keterbukaan informasi publik berdasarkan Perki Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Standar Layanan Informasi Publik, Informasi publik mengingat keterbukaan informasi publik ini menjadi hal yang penting sebagai bagian dari transparansi dalam pengelolaan perguruan tinggi.

    Reno selaku Staf Ahli Keterbukaan Informasi Publik RI menerangkan bahwa, Perguruan Tinggi wajib mengumumkan hal-hal yang berkaitan dengan mahasiswa sebagai core dari layanan pendidikan.

  • STAKat Negeri Pontianak bersiap menyongsong Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) bersama Tim ZI Biro Ortala dan Tim Bimas Katolik

    Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak bersiap menyongsong Zona Integritas (ZI) Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dalam rangka reformasi birokrasi. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, Dr. Sunarso, S.T.,M.Eng dalam sambutan pembukaan Focused Group Discussion Strategi Pembangunan Zona Integritas menuju WBK bersama Biro Organisasi dan Tata Laksana Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI dan tim Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik pada Kamis (06/12/22) hingga Jumat (07/12/22) di Ruang Rapat Utama STAKatN Pontianak.

    Kegiatan ini dihadiri oleh Kartika Damawanti, S.Kom, MM. Selaku Kabag Fasilitasi Reformasi Birokrasi dan Pelaporan Biro Ortala Kemenag RI, Ermina Suyanti, S.Sos, M.Si. selaku Analis SDM Aparatur Ahli Muda pada Subbagian Organisasi dan Tata Laksana Bagian Organisasi, Kepegawaian, dan Hukum Sekretariat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, tim Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, Dr. Sunarso, S.T.,M.Eng. selaku Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, para wakil ketua, dosen dan staff STAKatN Pontianak.

    Dalam materinya, Kartika mengatakan tujuan membangun Zona Integritas adalah memberikan keseragaman pemahaman dan tindakan dalam menuju WBK dan WBBM, serta bagaimana satker bisa memberikan pelayanan seefisien mungkin kepada masyarakat, yang mana tujuan akhirnya untuk lebih meningkatkan pelayanan dan kualitas tata kelola pemerintahan yang baik. Kartika juga menyampaikan mengenai penilaian reformasi birokrasi pada Kemenag dilaksanakan melalui PMPRB dan PMPZI demi meningkatkan kualitas tata kelola Kemenag.

    “jadi pada intinya sasaran ZI WBK WBBM itu sendiri mengacu pada permenpan RB Nomor 25 tahun 2020 dengan indikator birokrasi yang bersih, birokrasi yang kapabel, serta pelayanan publik yang prima yang semua pada intinya untuk dapat menghasilkan pemerintahan yang baik,tegas Kartika.

    Ketua STAKatN Pontianak Dr. Sunarso, S.T.,M.Eng. juga menambahkan bahwa STAKatN Pontianak terus berusaha memberikan yang terbaik dalam upaya memperoleh predikat Zona Integritas WBK, “Kami mencoba mengembangkan inovasi-inovasi yang berdampak. Selain inovasi yang berdampak, inovasi yang berskala kecil pun akan tetap kami perhatikan. Semua lapisan sivitas akademik STAKatN Pontianak harus paham apa itu Zona Integritas, sehingga pekerjaan ini tidak hanya dipahami dimaknai oleh pimpinan saja, tetapi seluruh warga STAKatN Pontianak, mulai dari dosen, staf sampai tenaga keamanan dan kebersihan. Semoga dengan begitu, tujuan kami untuk menjadi satker dengan Zona Integritas WBK dapat terwujud.”

     

    Penulis: Tetty Simbolon

  • Perayaan Natal Bersama, Pastur Mikael Dou Lodo: “Natal artinya lahir baru.”

    Jumat, 05 Januari 2024 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak merayakan Natal Bersama Tahun 2023 dan Tahun Baru 2024 sekaligus Jumat Pertama Bulan.

    Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi di Gedung Praktik Liturgi secara daring dan luring yang dipimpin oleh Pastur Mikael Dou Lodo, CP bersama Pastur Mayong Andreas Acin, OFMCap., Pastur Laurentius Prasetyo, CDD dan Pastur Gregorius Kukuh Nugroho, CM.

    “Natal bukan hanya sekedar kumpul keluarga tetapi harus mengalami Natal, artinya lahir baru. Tidak ada dendam, tidak ada iri hati. Kehidupan baru dari kelahiran”, ujar Pastur Mikael dalam homili. Pastur juga mengingatkan akan perendahan diri Allah, yang berkenan lahir di tempat yang bukan untuk manusia, maka sebagai manusia kita juga perlu mencontoh teladan Yesus Kristus agar selalu dengan total memberikan sukacita, kedamaian dan harapan bagi sesama serta turut berdoa untuk saudara-saudara di Betlehem yang tidak bisa merayakan Natal karena perang, namun semoga mereka bisa merayakan dalam hati masing-masing.

    Perayaan Natal Bersama 2023 dan Tahun Baru 2024 dilanjutkan dengan ramah tamah bersama seluruh Pendidik dan Tenaga Kependidikan serta mahasiswa/i Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak.

     

    Penulis : Angel M.

  • Pelaksanaan seminar dan workshop bertajuk “Bangga menjadi Katolik” di Gedung Praktik Liturgi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

    DARI KAMPUS UNTUK DUNIA

    “Generasi Muda sebagai Cahaya Harapan Gereja dan Bangsa”

    Penulis: EUGENIO AGUNG BIMANDARU_Prodi SarjanaTeologi STAKat Negeri Pontianak

     

    Pontianak, 7 Desember 2024 – Dengan semangat menciptakan kader muda Katolik yang militan, kreatif dan berintegritas, Gedung Praktik Liturgi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak menjadi saksi pelaksanaan seminar dan workshop bertajuk “Bangga menjadi Katolik.” Acara yang berlangsung dari pukul 08.20 WIB hingga 17.40 WIB ini, diinisiasi sebagai kolaborasi antara STAKat Negeri Pontianak dan Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Pontianak. Melalui berbagai sesi inspiratif yang diadakan secara daring dan luring, kegiatan ini menjadi wadah refleksi sekaligus dialog untuk menjawab tantangan dan peluang zaman.

    Diawali dengan laporan penanggung jawaban dari wakil ketua III Bapak Lukas Ahen, S.Ag.,M.Pd., yang menggarisbawahi pentingnya keterlibatan generasi muda Katolik menjadi agen perubahan di tengah tantangan zaman kompleks. Acara ini pula guna generasi muda Katolik menjadi lebih tangguh dan berdaya guna dalam membangun Bangsa dan Gereja. “Keterbatasan bukanlah hambatan, melainkan pemacu semangat. Kita hadir di sini bukan hanya untuk berkumpul, tetapi untuk belajar dan berkomitmen menjadi generasi yang membawa perubahan,” sambutan sekaligus membuka rangkaian acara oleh Ketua Bapak Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., ujarnya.

    Seminar ini menghadirkan beberapa tokoh inspiratif, termasuk Dr. Lidya Natalia Sartono, S.PD.,M.Pd (Anggota DPRD Prov KalBar), RP. Gregorius Kukuh Nugroho CM (Pastor Moderator Pastoral Mahasiswa KAP), Geralda Jennifer Odelia (Pemazmur/Konten Kreator), dan Brigjen Pol. Drs. Sumirat Dwiyanto., M.Si. (Kepala BNN Prov. KalBar).

    Pada sesi pertama bersama Bu Lidya dengan tema Bangga menjadi Katolik Berperan bagi Politik Masyarakat, beliau berbagi perjalanan hidupnya yang penuh tantangan hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu figur di dunia poltik. Ia mengutip filsafat Thomas Aquinas, bahwa politik sejatinya bertujuan mewujudkan bonum commune yang artinya kebaikan bersama yang berkelanjutan. Selain itu, Bu Lidya mengatakan ada tiga peran utama mahasiswa yaitu sebagai agen intelektual, agen sosial dan agen perubahan. “Jangan takut bermimpi besar, namun imbangi dengan usaha konsisten. Semua bermula dari iman dan doa, usaha dan proses yang panjang. Percayalah Tuhan merancang jalan hidupmu yang terbaik” pesannya kepada para mahasiswa.

                Romo Greg CM, sebagai moderator Pastoral Mahasiswa menekankan pentingnya fondasi iman yang kokoh sebagai jangkar dalam menjalani hidup. Beliau juga membagikan perikop kitab suci yang menekankan peranan kasih, iman dan harapan serta harus memiliki tujuan hidup sebagai bagian fundamental untuk menghadapi kekhawatiran duniawi, Matius 6:33-34, Markus 11:24-26. Bangga tidak hanya di KTP tetapi bangga juga harus dicerminkan dalam aktualisasi  bagi diri sendiri, Tuhan dan sesama. “Hati nurani dan iman adalah dasar yang mempersatukan dan membimbing kita untuk mencapai tujuan hidup yang lebih besar,” pesannya dalam sesi kedua dengan tema Bangga menjadi Katolik.

                Sesi Ketiga menghadirkan nuansa interaktif dengan kuis dan aktivitas yang melibatkan para mahasiswa/i secara aktif. Kak Jennifer, fasilitator sesi ini, berhasil mengaitkan isu-isu terkini dengan nilai-nilai Katolik, menciptakan suasana yang menarik dan relevan bagi generasi muda. Ia menuturkan bahwa ketergantungan pada dopamin media digital melemahkan fungsi prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab untuk fokus dan mengambil keputusan. Di lain hal,  Mat 28:19-20 menjadi titik emas bagi kak Jennifer untuk menyoroti peluang besar media sosial sebagai ladang misi. “Semua dibutuhkan proses dan jangan pernah mencari like-nya tetapi berilah sesuatu yang adalah kemampuan sendiri sebab konten adalah bentuk pelayanan bukan mengejar popularitas semata” pesannya di penutup sesi.

    Sesi terakhir dengan topik “Generasi Emas Gereja” menyoroti pentingnya membangun kaum muda yang sehat, bebas narkoba, dan unggul demi Indonesia bersinar. Pak Sumirat mengingatkan bahwa menjadi Katolik tidak cukup hanya dalam identitas, tetapi harus terlihat dalam tindakan dan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kita adalah agen perubahan.  Menjadi pemimpin yang memberi warna bukan hanya pengikut yang hilang dalam arus. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan hanya menjadi penonton. Banggalah menjadi 100% Katolik sekaligus 100% Indonesia” seru Pak Sumirat diakhir sesi, mengutip semboyan Mgr. Soegijapranata.

    Kegiatan seminar dan workshop ini telah menanamkan benih perubahan dalam hati generasi muda. Melalui wadah yang disediakan oleh STAKat Negeri Pontianak, dengan dukungan para panitia, setiap sesi dirancang untuk memfasilitasi refleksi mendalam, diskusi kritis, dan inspirasi spiritual. Hal ini mengingatkan bahwa generasi muda sebagai tulang punggung masa depan Gereja dan Bangsa. Sebagaimana Yesus mengajarkan dalam Injil Matius 5:13-16, “Kamu adalah garam dunia…kamu adalah terang dunia,” generasi muda Katolik dipanggil untuk menjadi cahaya harapan di tengah kegelapan dunia. Kaum Muda diharapkan mampu menjaga stabilitas moral dan memancarkan nilai-nilai Kristiani.

    Tongkat estafet yang diwariskan oleh generasi sebelumnya kini diharapkan dapat diterima dengan penuh tanggung jawab oleh generasi muda. Generasi muda diundang bukan untuk menjadi penonton, tetapi sebagai pelaku aktif dalam menciptakan dunia yang bersih, kreatif dan berintegritas. Kegiatan ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi dan Adorasi. Dalam Perayaan Ekaristi ini terdapat pemberkatan pengurus baru KMK dari Universitas Bina Sarana Informatika Pontianak.