Perayaan Ekaristi Missio Canonica Dan Wisuda Ke-2 Program Sarjana Dan Magister Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak menggelar wisuda 120 wisudawan di Aula Gardenia Resort, Jumat (16/12/2022).

Ketua STAKatN Pontianak, Dr Sunarso ST M Eng berharap 120 wisudawan yang diwisuda mereka bisa menjadi ini duta STAKatN Pontianak di tengah masyarakat.

“Tentu dengan melaksanakan tugas sebagai katekis, bisa meletakkan kabar bahagia di tengah-tengah masyarakat dan menghantarkan kedamaian. Apalagi sekarang di Kementerian Agama sedang digalakkan tahun toleransi dan moderasi beragama. Kita berharap bahwa mereka yang sudah kita berikan bekal di STAKAtN Pontianak bisa menjadi agen untuk bisa membawa perdamaian,” ujar Sunarso.

Sunarso mengatakan katekis diharapkan bisa memberikan contoh bagaimana hidup saling menghargai, saling berdampingan dan menghargai satu sama lain.

STAKatN Pontianak ujarnya, memang merupakan perguruan tinggi Katolik negeri satu-satunya dan baru pertama di Indonesia.

Sebelum dilaksanakan acara wisuda, STAKatN Pontianak menggelar Missio Canonica yang dilaksanakan di gereja Katedral Pontianak, Kamis 15 Desember 2022.

Misio Canonica dipimpin oleh Uskup Agung di Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus.

Acara Missio Canonica ini merupakan sebuah peristiwa penting karena pada acara ini terdapat proses pemberian kuasa mengajar mengenai Gereja berdasarkan wewenang Uskup kepada kaum awam.

Dalam Misio Canonica ini ke 120 wisudawan/wati dilantik dan diutus untuk mengemban tugas sebagai katekis.

Para calon katekis kemudian mendaraskan doa penyerahan dan mengakui bahwa mereka sungguh percaya kepada semua ajaran resmi Gereja, berjanji setia dan taat kepada pimpinan resmi Gereja dan bersedia melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada mereka, di hadapan Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus.

Kemudian Uskup menyerahkan kitab suci dan salib dan mengutus mereka, “Saya atas nama Gereja Mengutus kamu ke tengah umat Allah dan dunia.”

STAKatN Pontianak terletak di Jalan Parit Haji Mukhsin II Km 2 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya Kalbar.

Awalnya bernama Sekolah Tinggi Pastoral Santo Agustinus Keuskupan Agung Pontianak, dan beralamat di Jalan Adisucipto Km 9 Sungai Raya, Kubu Raya.

Dalam sejarahnya Sekolah Tinggi ini didirikan oleh Uskup Keuskupan Agung Pontianak tanggal 26 Mei 2006 dan bernaung di bawah Departemen Agama RI dengan izin operasional Surat Keputusan Dirjen Bimas Katolik Nomor: DJ/HK.00.5/99/2006 tanggal 12 Juli 2006.

Kehadiran STAKatN Pontianak membuat generasi tersebut kata Sunarso memperoleh kesempatan untuk belajar.

“Disampingnya itu, kita tentunya dengan dukungan pemerintah berusaha membangun kampus yang tidak hanya nanti dari sisi sarana prasarana baik dan layanan teknologi informasi terintegrasi yang memudahkan pelayanan, tapi juga dengan kehidupan kampus yang benar-benar seperti visi STAKatN untuk membentuk komunitas yang berilmu dan beriman katolik,” ujarnya.

STAKatN Pontianak senantiasa menanamkan kepada mahasiswa selain harus menguasai ilmu dan teknologi tetapi juga harus didasarkan pada iman Katolik yang secara universal mengajarkan sebagai umat Allah, makhluk Tuhan, untuk saling mencintai tambahnya.

Mewakili Gubernur Kalbar, Hermanus mengapresiasi 120 wisudawan STAKAtN Pontianak yang baru diwisuda.

Ia mengatakan wisuda bukanlah bagian dari akhir tapi justru merupakan sebuah awal bagi para wisudawan wisudawati untuk melangkah dan bisa berkiprah dalam rangka membangun bangsa dan negara.

Hermanus berharap kedepannya perguruan-perguruan tinggi termasuk STAKatN Pontianak ini diharapkan dapat terus-menerus mencetak sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan berakhlak.

Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengatakan calon guru-guru agama menentukan masa depan bangsa.

Mewakili Gubernur Kalbar, Hermanus mengapresiasi 120 wisudawan STAKAtN Pontianak yang baru diwisuda.

Ia mengatakan wisuda bukanlah bagian dari akhir tapi justru merupakan sebuah awal bagi para wisudawan wisudawati untuk melangkah dan bisa berkiprah dalam rangka membangun bangsa dan negara.

Hermanus berharap kedepannya perguruan-perguruan tinggi termasuk STAKatN Pontianak ini diharapkan dapat terus-menerus mencetak sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan berakhlak.

Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus mengatakan calon guru-guru agama menentukan masa depan bangsa.

Agustinus mengatakan inti dari agama adalah agar orang takut dengan Tuhan.

Namun pada kenyataannya sekarang orang takut tidak punya uang dan takut tidak punya jabatan.

Tugas guru agama kata dia membuat orang takut akan Tuhan.

Jika seseorang takut kepada Tuhan, beliau mengatakan Tuhan akan mencintai kita dan Tuhan akan memberikan kesejahteraan.

Dominikus Bobi, S.Pd dengan IPK 3,89 menjadi lulusan terbaik dalam wisuda Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, Jumat (16/12).

Ia bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus dan keluarga serta orang-orang terdekat yang selalu men-support-nya selama menyelesaikan studi.

Baginya gelar lulusan terbaik bukan apa-apa karena semua wisudawan sama-sama berperan sebagai utusan-utusan gereja melakukan tugas yang sama dan memajukan gereja dan bangsa

Domi pun memberikan tips, bagaimana ia memperoleh IPK nyaris sempurna.

Ia berpesan kepada adik-adik tingkat untuk banyak membaca buku.

Lalu, belajar jangan hanya terpaku pada satu media atau satu sumber. Karena mahasiswa boleh memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada pada saat ini seperti YouTube dan sebagainya.

“Ke depan pasti kami harus menjadi pelayan terbaik untuk masyarakat, kami memberikan teladan yang baik, sikap yang baik bagi orang-orang disekitarnya sebagai lulusan STAKAtN Pontianak,” tutupnya.

 

Humas: Tetty Simbolon

Similar Posts

  • Rapat Koordinasi Transformasi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Menjadi Institut Agama Katolik Negeri Pontianak

    Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak kembali mengadakan rapat koordinasi transformasi.. Rapat ini dibagi menjadi 2 sesi; yang pertama Sosialisasi Petunjuk Teknis Pemilihan Ketua yang dipaparkan secara langung oleh Direktur Pendidikan Katolik, Albertus Triyatmojo, S.S., M.Si. melalui Kasubdit Pendidikan Tinggi Yuvensius Sepur, S.Fil., M.Si. Juknis Pemilihan Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diatur dalam Kepdirjen Bimas Katolik Nomor 194 Tahun 2025. Ada beberapa tahapan dalam pemilihan Ketua, yang pertama penjaringan bakal calon. Pegawai yang memiliki gelar Doktor, minimal pangkat III/b, Lektor Kepala, maksimal berusia 60 tahun dapat mendaftarkan diri menjadi bakal calon Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Setidaknya harus ada sekitar 5 orang pendaftar atau jumlah pendaftar ganjil dalam seleksi Ketua.

    Tahap Kedua adalah pemberian pertimbangan. Daftar nama bakal calon Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diserahkan ke Uskup setempat untuk diberikan rekomendasi. Itulah mengapa, taat pada Uskup menjadi syarat khusus dalam penyeleksian. Pemerintah dalam hal ini Bimas Katolik tetap taat dan terus bekerja sama pada Magisterium Gereja. Tahap Ketiga yaitu penyeleksian dengan format penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Senat Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Yang terakhir adalah penetapan dan pengangkatan oleh Menteri Agama Republik Indonesia.

    Direktur Pendidikan Katolik, Albertus mengatakan bahwa Perguruan Tinggi memiliki peran strategis dalam mencerdaskan bangsa. Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dosen dengan jabatan akademik Lektor Kepala perlu diutamakan, sebab ini merupakan syarat mutlak dalam pemilihan Ketua. “Organisasi seperti Perguruan Tinggi membutuhkan orang-orang yang bisa diandalkan untuk menggerakkan organisasi dalam hal ini pemimpin yang sesuai agar mampu menciptakan pendidikan yang berkualitas sehingga menjadi kebanggan tersendiri bagi organisasi bahkan masyarakat,” sambung Albertus.

    Setelah sosialisasi juknis pemilihan Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, sesi dialnjutkan dengan rapat koordinasi transformasi. Kali ini rapat diadakan bersama Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana, Dr. Drs. Nur Arifin, M.Pd. Mengawali rapat, Kepala Biro Ortala mengaitkan sejarah BPUPKI yang membahas konsep dasar negara, termasuk hubungan agama dengan negara yang kemudian dikelola oleh Kementerian Agama.  Termasuk didalamnya pembentukan sekolah keagamaan yang dinilai lebih netral dan moderat daripada pesantren kala itu. “Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diharapkan dapat melahirkan umat Katolik yang mampu berpikir moderat dan tidak ekstrem serta menghargai antar umat beragama”, tutur Arifin.

    Rapat dilanjutkan dengan pembahasan kebijakan dan strategi Kementerian Agama (Kemenag) terkait transformasi kelembagaan PTKN, termasuk penyederhanaan birokrasi, landasan hukum, paradigma penataan Pendidikan Tinggi Keagaman, tahapan pengembangan, serta persyaratan detail untuk perubahan bentuk kelembagaan.

    Beberapa poin dalam tahapan pengembangan PTKN adalah perlunya penguatan kapasitas dan tata Kelola. Artinya, Perguruan Tinggi perlu fokus pada pemenuhan infrastruktur dasar, standar nasional pendidikan, pengembangan jejaring internasional, serta peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan dengan Bahasa internasional. Tahap kedua yaitu unggul nasional dengan kriteria terpenuhinya kriteria Perguruan Tinggi yang unggul, mandiri, dan akuntabel, menjadi pusat kajian keagamaan berbasis Moderasi beragama, menduduki peringkat 100 besar perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, dan mendapat akreditasi unggu. Tahap ketiga yaitu rujukan dunia. Untuk mencapai ini Perguruan Tinggi harus unggul dalam riset yang diakui dunia akademis dan internasional serta mampu menjadi role model bagi pusat pengembangan kerukunan umat beragama. Tahap keempat yakni daya saing. Perguruan Tinggi harus memiliki jaminan mutu yang terdapat pada seluruh aspek akademik mapupun non akademik, joint research, pertukaran dosen, joint committee of international conference, dan joint research publication.

    Lalu bagaimana hasil evaluasi terhadap Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak yang sedang berupaya menjadi Institut? Menurut PMA 13 Tahun 2024, ditemukan bahwa Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak telah memenuhi standar minimal untuk kualifikasi dosen, kepangkatan akademik, jumlah mahasiswa, jenis program studi, akreditasi prodi, serta sarana dan prasarana (termasuk lahan yang tersedia untuk menjadi Institut). Namun, ada beberapa catatan yang belum terpenuhi yaitu, rasio jumlah dosen dan mahasiswa ilmu agama. Rasio saat ini 1:30 sedangkan standar minimal untuk Katolik adalah 1:20. Namun, proses transformasi akan terus dioptimalkan dibawah pembinaan dan pengawasan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik dan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama.

  • Apri Kurniawan, Dosen Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak merupakan salah satu asesor BAN PDM Provinsi Kalimantan Barat.

    Apri Kurniawan, Dosen Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak merupakan salah satu asesor BAN PDM Provinsi Kalimantan Barat. Apri ditugaskan untuk melakukan akreditasi di KB Saran Bunda, KB PAUD Imanuel, PAUD Pelita Harapan, dan KB PAUD Umbung Buih pada 10-14 Juni 2024 di Melawi.

    Kegiatan dimulai pukul 7 pagi di ruang kelas dengan mengamati proses pembelajaran melalui observasi, dokumen, maupun wawancara dengan guru, maupun orang tua siswa. Visitasi yang dilakukan 2 asesor ini, Apri bersama Dra. Ersih menggunakan Teknik penggalian triangulasi data. Asesor mengumpulkan data, memberikan catatan butir dan melampirkan bukti lengkap agar siapapun yang membaca informasi tersebut mengambil kesimpulan yang sama sekalipun yang bersangkutan tidak melihat secara langsung. Proses penilaian saat visitasi dilakukan dengan observasi proses pembelajaran di kelas, dokumentasi, maupun wawancara dengan guru maupun orang tua siswa sesuai Instrumen Pedoman Visitasi (IPV) PAUD.

    Apri berharap adanya akreditasi PAUD ini dapat meningkatkan kualitas sekolah kedepannya. “Harapan untuk sekolah yang diakreditasi adalah supaya terjadi perbaikan kedepannya, akreditasi bukan untuk mencari kesalahan sekolah namun untuk menjadi tolak ukur bagaimana pembelajaran yang sudah dilakukan selama ini sehingga setelah selesai diakreditasi diharapkan terjadi perbaikan sesuai saran-saran yang diberikan.”, imbuh Apri.

     

    Penulis : Angel M.

  • Pelatihan Teknis Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh Pusdiklat Tenaga Administrasi Badan Litbang dan Diklat Bekerjasama Dengan Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

    Pelaksanaan Pelatihan Di Wilayah Kerja ( PDWK ) yang dilaksanakan oleh Pusdiklat Tenaga Administrasi Badan Litbang dan Diklat bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKatN) Pontianak yang berlangsung selama seminggu penuh dimulai dari Senin (27/09) sampai Jumat (01/10) telah berjalan dengan lancar. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di Hotel Kapuas Palace Pontianak  ini dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi ASN kementerian Agama khususnya di wilayah Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak.

     Pelatihan yang dilaksanakan yaitu Penyusunan Standar Operasional Prosedure (SOP). Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 30 orang peserta yang terdiri dari PNS dan PPNPN yang ada di wilayah Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Pelatihan tersebut dibuka oleh Deden Wahyudin selaku Kepala Subbidang Diklat Teknis Administrasi dan Fungsional Bidang Penyelenggaraan Pusdiklat Tenaga Administrasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dan didampingi oleh Ketua STAKatN Pontianak beserta pejabat Struktural dan pejabat fungsional lainnya.

     Dalam sambutannya Deden Wahyudin antara lain menyampaikan” Pelatihan penyusunan SOP ini sangat penting untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman bagi seluruh ASN Kementerian Agama khususnya di wilayah STAKatN Pontianak agar memahami bagaimana cara SOP dibuat dan disusun dengan baik. Karena SOP itu penting sebagai landasan / pedoman ASN dalam melaksanakan tugas sehari-hari “ 

    “ walaupun kita masih berada dalam suasana pandemi,  namun hal ini semoga tidak mengurangi keseriusan, semangat dan motivasi para peserta semua untuk ikut serta dalam pelatihan inikarena inti dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi sebagai semua ASN diwilayah STAKatN  rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat” imbuh beliau.

    Pelatihan ini dilaksanakan selama 5 hari kegiatan, dan pembelajaran yang diberikan adalah dalam bentuk penyampaian materi, praktik, tugas, maupun ujian akhir pembelajaran. Pembelajaran pada pelatihan ini diberikan oleh Widyaiswara Ahli Madya Pusdiklat Tenaga Administrasi Kementerian Agama RI; Drs. H. Mohammad Tahmid  dan Yulianti Haris dibantu oleh tim panitia pusdiklat tenaga administrasi badan litbang . Pelatihan ini diakhiri dengan kunjungan dari Bapak Drs. H. Syahrul Yadi, M.Si selaku Kepala Kanwil Kemenag KalbarPelatihan yang juga tak lupa menyampaikan pentingnya moderasi beragama khususnya di wilayah Kementerian Agama. Pelatihan yang telah dilaksanakan ini diharapkan akan dapat mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan yaitu peningkatan kualitas dan kompetensi ASN Kementerian Agama yang mampu melaksanakan tugas dengan penuh kompetensi dan profesional.

     

    Foto : Panitia Pelaksana

    Penulis : Tetty Novitasari Simbolon

     

  • Apel Peringatan Hari Amal Bhakti Ke – 78 Kementerian Agama RI Kubu Raya,Rabu 3 Januari 2024

     

    STAKat Negeri Pontianak turut memperingati Hari Amal Bhakti ke-78 Kementerian Agama yang diawali dengan kegiatan apel pada Rabu, 03 Januari 2023. Seluruh pendidik dan tenaga kependidikan kompak menggunakan seragam apel berwarna merah putih. Kegiatan ini juga diikuti oleh seluruh mahasiswa/i STAKat Negeri Pontianak.

    Dalam apel, Ketua STAKat Negeri Pontianak yang diwakili oleh Wakil Ketua 1 Bidang Akademik dan Kelembagaan meneruskan pesan Menteri Agama Yaqult Cholil Qoumas. Dalam sambutan, disampaikan bahwa sebagai institusi yang memiliki tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama dan Pendidikan keagamaan, Kementerian Agama  bertugas untuk menjaga kerukunan nasional dan memberikan pelayanan yang adil, transparan, akuntabel untuk seluruh umat serta membangun karakter bangsa melalui pendidikan agama yang moderat.

    STAKat Negeri Pontianak menerima dengan positif sambutan Menteri Agama dalam peningkatan spirit layanan Umat Beragama khususnya pelayanan kepada mahasiswa/i kampus. Kegiatan perayaan HAB dilanjutkan dengan kerja bakti oleh seluruh mahasiswa/i dan warga STAKat Negeri Pontianak.

     

     

    Penulis       : Angel M

    Penyunting : K. Asih

  • Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak dalam Pembangunan Zona Integritas menuju WBK WBBM

    Kubu Raya-Sebagai tindaklanjut dari monitoring dan evaluasi rapat pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) pada Rabu, 24 Januari 2024 bersama Ditjen Bimas Katolik, perlu diadakan rapat terkait perbaikan evidence penilaian mandiri Zona Integritas Tahun 2023 yang dipimpin oleh Kepala Bagian Administrasi Umum, Akademik dan Keuangan selaku Ketua Tim Zona Integritas.

    Tahun 2023, Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak dinyatakan lolos ke tahap penilaian selanjutnya. Maka dari itu dalam rapat, Ketua Tim Zona Integritas menyampaikan beberapa evidence yang harus dipenuhi oleh masing-masing area. Adapun pemenuhan evidence dijadwalkan selesai pada akhir bulan Januari 2024.

    “Semoga tahun 2024, penilaian mandiri Zona Integritas Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak lebih baik dari tahun sebelumnya dan tanggungjawab pelayanan publik bukan hanya milik tim area tertentu saja tapi untuk kita semua”, tutup Ketua Tim Zona Integritas.