Ketua STAKat Negeri Pontianak dalam Indonesia-Ethiopia Interfaith Dialogue di Addis Ababa.

Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak yang diwakili oleh Ketua menghadiri kegiatan “Indonesia-Ethiopia Interfaith Dialogue”. Kegiatan yang didukung oleh Indonesia Ethiopia Friendship Club ini akan digelar di Hawassa pada 05 s.d. 08 Agustus 2024.

Sejumlah anggota delegasi yang hadir pada kegiatan bertajuk Diplomacy of Religious Moderation to Build Interfaith Dialogue ini adalah Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Rosihon Anwar, M.Ag., Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado Dr. Olivia Cherly Wuwung, S.T., Rektor dan Direktur Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. dan Prof. Dr. Relin Denayu Ekawati, M.Ag., Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., Ketua Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri Dr. Sulaiman dan Plt. Kepala Pusat kerukunan Umat Beragama Kepala Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal Dr. Wawan Djunaedi, MA.

Mereka disambut hangat oleh Duta Besar Al Busyra beserta staf. Dikutip dari Kemenag.go.id,  Duta Besar Al Busyra memaparkan terkait perkembangan Ethiopia yang sudah mengalami banyak kemajuan di berbagai bidang. “Makanya kita harus terus tingkatkan kesadaran tentang Ethiopia maupun Afrika, baik melalui kegiatan langsung seperti dialog maupun publikasi secara intensif,” ujar Dubes Al Busyra.

Mantan Konjen RI di Houston Amerika Serikat ini pun menyambut baik kegiatan dialog antaragama antara yang menghadirkan tokoh maupun akademisi Indonesia di Ethiopia. Sebab dari dialog ini diharapkan selain bisa meningkatkan toleransi juga membantu merumuskan solusi-solusi atas berbagai konflik keagamaan.

Dari Ethiopia, peserta dialog termasuk Ambaye Ogato dari Ethiopian National Dialogue Commission, Presiden Ethiopia Adventist College Dr. Abraham Dalu, Dr. Melese Madda dari Hawassa University, dan Muhammed Ali dari Dilla University. Beberapa hari kedepan selama kunjungan berlangsung,  akan diadakan penandatangan MoU antara Perguruan Tinggi Indonesia dengan Ethiopia Adventist College / Kuyera Adventist University, Gondar University dan Madda Walabu University.

Penulis : Angel M.

Similar Posts

  • Minimalisir resiko kanker serviks dan kanker payudara, DWP Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak Dukung Tes IVA dan SADANIS Serentak

    Sebagai salah satu upaya untuk mengurangi resiko kanker serviks dan kanker payudara, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak ikut serta dalam pelaksanaan tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan Sadanis (Periksa Payudara Klinis) secara gratis di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Baratpada Rabu 10Agustus 2022.Tes IVA dan Sadinis, yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia oleh DWP Kemenag RI bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-77. Antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan ini sangat besar,untuk seluruh Indonesia ada 16.335 peserta yang sudah mendaftar, sementara untuk Kalimantan Barat ada sekitar 300 orang peserta yang mendaftar.

    Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan DWP di 34 Kanwil Kemenag Provinsi, sejumlah Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). Di Pontianak, DWP Kemenag Provinsi Kalimantan Barat, DWP Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, dan DWP STAKatNegeri Pontianak bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, melaksanakan kegiatan di Aula Kanwil Kemenag Kalbar. Pembukaan kegiatan dilaksanakan melalui Zoom oleh DWP Kemenag RI yang disaksikan bersama-sama oleh DWP di seluruh daerah. Setelah upacara pembukaan, kegiatan tes IVA danSadanis dilaksanakan di Mess Kanwil Kemenag Kalbar. Patut disyukuri bahwa dari hasil pemeriksaan para peserta dinyatakan sehat dari kanker serviks dan kanker payudara.

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Bapak Hary Agung Tjahyadi,sangat mengapresiasi dan mendukung pelaksanaan tes IVA dan Sadanis tersebut.“Diharapkan Tes IVA dan Sadanis ini rutin dilakukan paling tidak 6 bulan sekali atau satu tahun sekali,semoga lain kali bisa dilakukan terus,” ucap Bapak Hary Agung Tjahya didalam sambutannya.

    Hal yang senada juga disampaikan oleh Kakanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Barat Bapak Syahrul Yadi, yang menegaskan pentingnya tes IVA dan Sadanis untuk medeteksi secara dini kanker serviks dan kanker payudara, sehingga dapat dilakukan upaya untuk mengurangi resiko yang diakibatkannya. Selain itu, beliau mengapresiasi kerja sama yang baik antara DWP Kanwil Kemenag Kalbar, DWP IAIN Pontianak, dan DWP STAKat Negeri Pontianak, dan berpesan agar kerja sama tersebut ditingkatkan di masa yang akan datang.

    Pada kesempatan yang sama, Ibu Ahaiyati Sunarso selaku Ketua DWP STAKat Negeri Pontianak yang baru saja terbentuk, menyatakan bahwa kegiatan Tes IVA dan Sadanis merupakan kegiatan yang perlu diapresiasi karena merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kaum wanita. Melalui kegiatan tes IVA dan Sadanis, gejala kanker serviks dan kanker payudara dapat dideteksi pada tahap awal sehingga dapat dilakukan tindakan penyembuhan dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi, dan diharapkan dapat menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tersebut. 

     

    Penulis: Tetty Novitasari Simbolon

  • Capacity Building: Maju dan Tumbuh Bersama Menuju Transformasi STAKat Negeri Pontianak

    Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak mengadakan kegiatan Capacity Building dengan tema “Tumbuh Bersama, Maju Bersama. Menuju Transformasi STAKat Negeri Pontianak” di Rumah retret St. John Paul II Anjongan, Kalimantan Barat. Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh dosen dan staf serta 7 orang mahasiswa ini berlangsung selama 27 – 29 Mei 2024. Digelar selama 3 hari, pantia ice breaking yang merupakan pegawai STAKat Negeri Pontianak bersama dengan narasumber, Romo Gregorius Kukuh Nugroho, CM memberikan begitu banyak permainan dan materi yang menarik.

    Capacity building ini diketuai oleh Joko Dwitanto, S.T., M.M. dalam sambutannya Joko menerangkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk pengembangan Sumber Daya Manusia melalui penguatan institusi. Hal itu juga disampaikan oleh Ketua STAKat Negeri Pontianak yang turut hadir memberikan pengarahan serta membuka kegiatan. “Momen ini diharapkan dapat merilekskan sejenak pikiran serta merenungkan seberapa jauh kebersamaan dan menghidupinya di kampus STAKat.”

    Ketua, Dr. Sunarso, S.T. M.Eng. mengatakan kerjasama dan support antara dosen-karyawan-mahasiswa sangat diperlukan. Contoh paling nyata kerjsama nya adalah dalam hal akreditasi. “Kita semua harus saling support, sebab mahasiswa-dosen-karyawan memiliki keterkaitan. Misalnya dalam hal akreditasi, jika akreditasi baik sekali maka mahasiswa akan lebih berpeluang untuk mengikuti CPNS. Begitu juga pegawai, kaitannya dengan jumlah mahasiwa yang tertarik ke STAKat”, tutur Ketua.

    Sebagai Perguruan Tinggi Katolik yang menjunjung nilai-nilai kekatolikan, hari pertama kegiatan diadakan Misa yang dibawakan oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus. Dalam kotbah nya, Mgr. Agus mendukung penuh Kerjasama antara gereja dan STAKat Negeri Pontianak terutama perubahan bentuk Sekolah Tinggi menjadi Institut serta menciptakan lulusan yang siap kerja dan berdaya saing.

    Penulis: Angel M.

  • Rapat Koordinasi Transformasi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Menjadi Institut Agama Katolik Negeri Pontianak

    Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak kembali mengadakan rapat koordinasi transformasi.. Rapat ini dibagi menjadi 2 sesi; yang pertama Sosialisasi Petunjuk Teknis Pemilihan Ketua yang dipaparkan secara langung oleh Direktur Pendidikan Katolik, Albertus Triyatmojo, S.S., M.Si. melalui Kasubdit Pendidikan Tinggi Yuvensius Sepur, S.Fil., M.Si. Juknis Pemilihan Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diatur dalam Kepdirjen Bimas Katolik Nomor 194 Tahun 2025. Ada beberapa tahapan dalam pemilihan Ketua, yang pertama penjaringan bakal calon. Pegawai yang memiliki gelar Doktor, minimal pangkat III/b, Lektor Kepala, maksimal berusia 60 tahun dapat mendaftarkan diri menjadi bakal calon Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Setidaknya harus ada sekitar 5 orang pendaftar atau jumlah pendaftar ganjil dalam seleksi Ketua.

    Tahap Kedua adalah pemberian pertimbangan. Daftar nama bakal calon Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diserahkan ke Uskup setempat untuk diberikan rekomendasi. Itulah mengapa, taat pada Uskup menjadi syarat khusus dalam penyeleksian. Pemerintah dalam hal ini Bimas Katolik tetap taat dan terus bekerja sama pada Magisterium Gereja. Tahap Ketiga yaitu penyeleksian dengan format penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Senat Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Yang terakhir adalah penetapan dan pengangkatan oleh Menteri Agama Republik Indonesia.

    Direktur Pendidikan Katolik, Albertus mengatakan bahwa Perguruan Tinggi memiliki peran strategis dalam mencerdaskan bangsa. Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dosen dengan jabatan akademik Lektor Kepala perlu diutamakan, sebab ini merupakan syarat mutlak dalam pemilihan Ketua. “Organisasi seperti Perguruan Tinggi membutuhkan orang-orang yang bisa diandalkan untuk menggerakkan organisasi dalam hal ini pemimpin yang sesuai agar mampu menciptakan pendidikan yang berkualitas sehingga menjadi kebanggan tersendiri bagi organisasi bahkan masyarakat,” sambung Albertus.

    Setelah sosialisasi juknis pemilihan Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, sesi dialnjutkan dengan rapat koordinasi transformasi. Kali ini rapat diadakan bersama Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana, Dr. Drs. Nur Arifin, M.Pd. Mengawali rapat, Kepala Biro Ortala mengaitkan sejarah BPUPKI yang membahas konsep dasar negara, termasuk hubungan agama dengan negara yang kemudian dikelola oleh Kementerian Agama.  Termasuk didalamnya pembentukan sekolah keagamaan yang dinilai lebih netral dan moderat daripada pesantren kala itu. “Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diharapkan dapat melahirkan umat Katolik yang mampu berpikir moderat dan tidak ekstrem serta menghargai antar umat beragama”, tutur Arifin.

    Rapat dilanjutkan dengan pembahasan kebijakan dan strategi Kementerian Agama (Kemenag) terkait transformasi kelembagaan PTKN, termasuk penyederhanaan birokrasi, landasan hukum, paradigma penataan Pendidikan Tinggi Keagaman, tahapan pengembangan, serta persyaratan detail untuk perubahan bentuk kelembagaan.

    Beberapa poin dalam tahapan pengembangan PTKN adalah perlunya penguatan kapasitas dan tata Kelola. Artinya, Perguruan Tinggi perlu fokus pada pemenuhan infrastruktur dasar, standar nasional pendidikan, pengembangan jejaring internasional, serta peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan dengan Bahasa internasional. Tahap kedua yaitu unggul nasional dengan kriteria terpenuhinya kriteria Perguruan Tinggi yang unggul, mandiri, dan akuntabel, menjadi pusat kajian keagamaan berbasis Moderasi beragama, menduduki peringkat 100 besar perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, dan mendapat akreditasi unggu. Tahap ketiga yaitu rujukan dunia. Untuk mencapai ini Perguruan Tinggi harus unggul dalam riset yang diakui dunia akademis dan internasional serta mampu menjadi role model bagi pusat pengembangan kerukunan umat beragama. Tahap keempat yakni daya saing. Perguruan Tinggi harus memiliki jaminan mutu yang terdapat pada seluruh aspek akademik mapupun non akademik, joint research, pertukaran dosen, joint committee of international conference, dan joint research publication.

    Lalu bagaimana hasil evaluasi terhadap Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak yang sedang berupaya menjadi Institut? Menurut PMA 13 Tahun 2024, ditemukan bahwa Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak telah memenuhi standar minimal untuk kualifikasi dosen, kepangkatan akademik, jumlah mahasiswa, jenis program studi, akreditasi prodi, serta sarana dan prasarana (termasuk lahan yang tersedia untuk menjadi Institut). Namun, ada beberapa catatan yang belum terpenuhi yaitu, rasio jumlah dosen dan mahasiswa ilmu agama. Rasio saat ini 1:30 sedangkan standar minimal untuk Katolik adalah 1:20. Namun, proses transformasi akan terus dioptimalkan dibawah pembinaan dan pengawasan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik dan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama.

  • Dies Natalis Ke-8 STAKat Negeri Pontianak: Membangun Sinergi untuk Transformasi Berkelanjutan

    Menyambut Acara Puncak

    Dies Natalis Ke-8 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak dimeriahkan dengan pelbagai rangkaian acara selama satu minggu sebelum acara puncak. Kegiatan yang di ketuai oleh Suko, M.Pd. ini melibatkan seluruh civitas akademika agar semuanya dapat merasakan suka cita dies natalis ini. Diawali dengan berbagai lomba selama dua hari seperti estafet getah, estafet air, kereta bola, memasukan bola dalam gelas, dilanjutkan juga dengan kegiatan kerja bakti dan jalan santai pada 15 Januari 2025. Tidak lupa juga salah satu wujud syukur, kampus mengadakan aksi kemanusiaan berupa donor darah, anjangsana, hingga kunjungan ke panti asuhan St. Hieronimus, MSA Pontianak. Dalam kunjungan ke panti asuhan, dana maupun barang-barang keperluan panti dikumpulkan bersama mahasiswa, dosen hingga tenaga kependidikan.

    Orasi Ilmiah

                Tak hanya itu, untuk memajukan keilmuan mahasiswa/i jSekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak maupun peserta yang hadir tentu saja kampus mengadakan orasi ilmiah. Kegiatan ini turut mengundang Romo Albertus Bagus Laksana, SJ yang merupakan Rektor Universitas Sanata Dharma. Dalam kesehariannya beliau mengajar beberapa matakuliah seperti, Teologi Agama-Agama dan Komparatif, Yesus Kristus, Tritunggal dan Keselamatan, serta beberapa mata kuliah keagamaan lainnya. “Sinergi dan Transformasi Pendidikan Tinggi Katolik di Indonesia: Arah, Peluang, dan Tantangan” menjadi materi yang dibawakan oleh Romo Bagus. Materi ini membuka wawasan peserta akan kebijakan Pendidikan Tinggi, bagaimana arah Perguruan Tinggi zaman ini, bagaimana melahirkan lulusan yang unggul, dan pemaparan akan situasi Pendidikan Tinggi Indonesia yang sebenarnya hal ini tidak hanya membuka pandangan peserta saja melainkan juga STAKat sebagai Perguruan Tinggi untuk lebih bersemangat membangun lulusan yang mampu bersaing di era global melalui dukungan moril dan keterbukaan terhadap pengembangan skill atau kemampuan kerja lainnya terutama dalam digitalisasi. Dalam beberapa kesempatan, Ketua STAKat Negeri Pontianak selalu mengutarakan bahwa lembaga selalu mendukung mahasiswa tidak hanya dalam bidang akademis tetapi juga non akademis demi mengasah kemampuan peserta didik.

                Selain Romo Bagus, Orasi Ilmiah juga mengundang Prof. Eusabinus Bunau, S.Pd., M.Si., Ph.D. yang merupakan dosen FKIP UNTAN. Beliau memilih judul materi “Isu-Isu Pendidikan Nasional dan Sinergitas Antara STAKATN Pontianak, Gereja, dan Pemerintah Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan” yang menurut beliau ‘pas’ dengan tema dies natalis kali ini yaitu “Membangun Sinergi Menuju Transformasi Berkelanjutan”.

    Acara Puncak dengan Misa Syukur dan Ramah Tamah

                Acara puncak dies natalis ke-8 dengan agenda Misa syukur diselenggarakan pada 17 Januari 2025 di Gedung Praktik Liturgi. Misa dipersembahkan oleh Mgr. Agustinus Agus bersama konselebran RP. Athanasius Nandung, OFMCap. selaku Romo rekan Paroki St Sesilia Keuskupan Agung Pontianak dimana STAKat Negeri Pontiak masuk wilayah paroki tersebut, serta beberapa romo yang berkarya di Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak RP. Gregorius Kukuh Nugroho, CM., RP Mayong Andreas Acin, OFMCap., RP Laurentius Prasetyo, CDD, RP Mikael Dou Lodo, CP., dan RP Dilan, CP. Selain itu, beberapa tamu undangan turut hadir seperti Dirjen Bimas Katolik, Drs. Suparman, M.Si., Pembimas Katolik Provinsi Kalimantan Barat Yosef Somen, S.Ag., Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Kalimantan Barat Dr. Herkulana Mekkaryani, Komunitas Susteran SFD, alumni serta stakeholder lainnya.

                Dalam homilinya. Mgr. Agus menyambut hari ulang tahun Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak dengan pesan kepada seluruh civitas akademika agar mampu bekerjasama membawa umat dalam perjumpaan dengan Yesus seperti dalam bacaan Injil Markus 2: 1-4 teman-teman orang lumpuh yang membawa temannya kepada Yesus agar dapat sembuh.

    “Hal yang diambil dalam bacaan ini adalah kebersamaan dan yang luar biasa adalah iman pada Tuhan. Inilah yang menjadi kekuatan. Iman orang sakit inilah yang menjadi modal dasar untuk sembuh, tidak ada kata putus asa. Iman harus diwujudnyatakan melalui perbuatan dan perjuangan. Maka ketika kalian (mahasiswa/i) ingin lulus cepat maka jangan belajar dengan santai, belajarlah dengan giat serta andalkan Tuhan Yesus, sebab tidak ada artinya jika tidak dekat dengan Tuhan”, ucap Mgr. Agus. Acara puncak kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah di area lingkungan kampus.

    Penulis

    Angel M.

  • Wawancara Penerimaan Mahasiswa Baru Gelombang 1 Prodi Keagamaan Katolik

    Kubu Raya – Terdata sejak penutupan PMB gelombang pertama pada 31 Mei 2024 lalu, ada 306 orang yang mendaftarkan diri di STAKat Negeri Pontianak. Setelah seleksi berkas, sekitar 258 orang dipilih untuk mengikuti tahap seleksi selanjutnya.

    Sejak pukul 8 pagi, sejumlah dosen melaksanakan seleksi berupa wawancara secara online yang dilaksanakan selama 3 hari, yakni 05 s.d. 07 Juni 2024 di Gedung St. Hieronimus dan St. Agustinus.

    Sebelumnya, pihak panitia telah memberikan beberapa hal untuk dipersiapkan calon mahasiswa baru dalam tes wawancara ini. Materi wawancara diantaranya tentang konsep diri, motivasi diri, bagaimana kehidupan menggereja calon mahasiswa, serta wawasan kebangsaan.

    Saat ini, penerimaan mahasiswa baru hanya untuk Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik dan Magister Teologi Katolik, namun beriringan dengan transformasi STAKat Negeri Pontianak menjadi Institut maka kedepannya akan dilakukan seleksi terhadap calon mahasiswa 3 Prodi baru yakni Pastoral Konseling, Teologi dan Pastoral untuk program sarjana.

    Penulis : Angel M.

  • Memaknai Perayaan Dies Natalis STAKat Negeri Pontianak Ke-6

    Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKatN) Pontianak menggelar dies natalies ke-6 di Gedung Praktik Liturgi, Selasa 17 Januari 2023. 

    Acara dies natalies ke-6 ini diawali dengan diadakannya lomba-lomba yang melibatkan seluruh civitas akademika STAKat Negeri Pontianak. Beberapa acara lomba yang diselenggarakan antara lain membuat dan menghias nasi tumpeng, bola dangdut, paduan suara, stand up comedy, make-up berpasangan dan katekese audio visual.  Tidak hanya itu, seluruh warga STAKat Negeri Pontianak juga melaksanakan jalan santai pada Senin, 16 Januari 2023.

    Puncak perayaan acara Dies Natalis tahun 2023 dilaksanakan tepat pada hari ulang tahun STAKat Negeri Pontianak yang jatuh pada tanggal 17 Januari. Acara puncak Dies Natalis dimulai dengan acara Misa Dan Pembinaan Rohani yang dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, dilanjutkan dengan pemberkatan Gedung Praktik Liturgi, penandatanganan Prasasti dan pemotongan tumpeng oleh seluruh pengelola STAKat Negeri Pontianak.  

    Ketua STAKatN Pontianak, Dr Sunarso ST M Eng mengatakan dengan dies natalies ke-6 ini harapnya dapat meningkatkan kebersamaan seluruh warga kampus (dosen, karyawan dan mahasiswa).

    “Dengan kebersamaan tersebut, kita bersama-sama membangun STAKatN Pontianak. Sesuai dengan program Kementerian Agama menjadikan tahun 2021/2022 sebagai tahun kerukunan, maka di tahun ini , kita akan terus melanjutkan kebersamaan kerukunan warga kita, tentunya dengan menciptakan kerukunan kita memiliki modal yang kuat untuk maju berkontribusi untuk kementerian agama,” tuturnya.

    Turut hadir dalam acara puncak ini adalah beberapa mitra dan juga tamu undangan. Dra. Yosepha Hasnah, M.Si selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Ir. Magdalena, M.M., selaku Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkayang., Meiske Anggrainy,S.Sos, M.M, selaku Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Martinus Sudarno, S.H., selaku Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Drs. Yosef., M.Th., selaku Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Prov. Kalbar dan juga beberapa tamu penting lainnya.

    Dalam perayaan dies natalies ini, Sunarso juga menuturkan dalam waktu dekat STAKatN Pontianak akan meningkatkan akreditasi kampus sehingga dapat akan menambah program studi.

    “Jangka pendek kita yaitu untuk meningkatkan akreditasi kampus dari baik menjadi baik sekali. . Kita juga akan menambah program studi dan ingin memperluas lahan kampus. Tak hanya itu saja, dalam empat atau lima tahun kedepan, kita ingin STAKatN Pontianak menjadi institut dan setelah itu untuk menaikan levelnya menjadi universitas,” terangnya.

    Tidak lupa dalam kata penutupnya, Sunarso mengajak seluruh civitas akademika STAKat Negeri Pontianak untuk mensyukuri bahwa keberadaan STAKat Negeri Pontianak adalah berkat dan rumah seluruh warga STAKat Negeri Pontianak sehingga menjadi tanggung jawab seluruh civitas akademika STAKat Negeri Pontianak  untuk inilah rumah kita, saya ingin menghajak kits asemua bersama-sama membangun STAKat Negeri Pontianak menjadi lebih baik.  

    Penulis: Tetty Novitasari Simbolon