Dosen STAKat Negeri Pontianak, Oktavianey Ajak Mahasiswa untuk Ciptakan Kampus dengan Kultur Saling Menghargai

Jumat, 26 Juni 2024 lalu, Dosen STAKat Negeri Pontianak, Oktavianey G.P.H Meman diundang untuk menjadi narasumber dalam kegiatan Dialog Interaktif dengan tema Merajut Keragaman Budaya dan Toleransi Beragama dalam Menciptakan Keharmonisan di Kehidupan Kampus .

Kegiatan yang dilaksanakan oleh BEM IKIP PGRI Pontianak ini juga dihadiri oleh Prof Dr. H. Zaenuddin, MA selaku Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak untuk memberikan materi. Dalam kesempatan ini, Prof. Zainudin mengajak mahasiswa untuk terus saling bertoleransi dan saling menghargai dan menghormati meski memiliki budaya yang berbeda demi menjaga NKRI.

Oktavianey selaku narasumber mengatakan bahwa kampus harus menciptakan kultur yang saling menghargai dan sebagai generasi muda sikap itu juga harus disuarakan di media sosial. “Kampus itu tempat kita menerima perbedaan. Teman-teman generasi Z walaupun konsen di sosial media, tetap harus selalu mempromosikan keragaman budaya dan mampu merajut perbedaan budaya di Kalimantan Barat. Semboyan bangsa kita Bhinneka Tunggal Ika bermakna kita berbeda-beda tetapi tetap satu. Kampus tempat kita menimba ilmu untuk saling menghargai, bagaimana kampus menciptakan kultur yang saling menghargai. Agama katolik misalnya mengajarkan tentang diskusi kemanusiaan atau toleransi beragama. Sebagai seorang pendidik kita akan menanami modal toleransi, kejujuran dan sebagainya”, ujar Oktavianey.

Penulis: Angel M.

Similar Posts

  • Peranan Sarjana Katolik dalam Merajut Kebhinekaan

    “Seorang Sarjana Katolik harus memiliki dasar yang kuat dalam nilai-nilai Katolik saat terjun dalam masyarakat” demikian ungkap Maria Goretty di temu Alumni STAKatN Pontianak, 12-14 November 2021. Tokoh Perempuan Katolik yang saat ini menjabat sebagai DPD-RI Kalbar untuk ke empat kalinya, diundang untuk memberikan penguatan akademik bagi para alumnus.

    Alumni STAKatN Pontianak pada umumnya menjadi katekis di berbagai daerah. Menurut Maria, katekis itu selalu dipandang oleh umat sebagai tokoh lokal. Mereka identik dengan pengetahuan keagamaan yang mendalam dan teladan dalam beriman. Akan tetapi, ketokohan ini harus dipahami sebagai panggilan yang diterima oleh katekis yaitu panggilan untuk melayani. Artinya, mereka yang terpilih menjadi katekis mememilik tanggung jawab untuk menghadirkan diri secara untuk melanani umat, melayani masyarakat.

    Panggilan yang diterima oleh alumni ini menjadi semakin penting dalam konteks persoalan nasional yang sedang kita hadapi. Mengutip perkataan Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”, Maria menjelaskan bahwa bangsa Indonesia sedang menghadapi persoalan. Ada banyak piihak yang mencoba menggerogoti nilai-nilai Pancasila: keyakinan pada Tuhan, kemanusian, persatuan dalam keragaman, musyawarah mufakat dan keadilan sosial. Para alumnus harus siap untuk terjun meresponnya baik secara komunal maupun individual.

    Agar alumni siap, Maria memberikan point penting. Point pertama, alumni harus kuat dalam kekatolikan. Kuat dalam kekatolikan artinya menghidupi nilai-nilai kekatolikan secara kuat. Nilai ini harus menjadi semangat dasar bagi alumni dalam tindakan dan laku mereka. Kedua, alumni harus siap masuk dalam isu-isu nasional. Sikap diam dan cuek terhadap persoalan di masyarakat bukanlah ciri khas seorang sarjana Katolik, melainkan aktif memberikan diri untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik. Ketiga, memaknai kebinekaan sebagai anugerah. Keragaman adalah Identitas otentik negara Indonesia. Alumni dipanggil untuk senantiasa merefleksikan fakta ini. Keempat, membangun generasi katolik sejati yang jujur, berjiwa kerja dan selalu siap melayani. Kelima, siap dibenci demi nilai-nilai ajaran katolik.

     

     

    Penulis: Subandri Simbolon

  • Pelatihan Teknis Penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh Pusdiklat Tenaga Administrasi Badan Litbang dan Diklat Bekerjasama Dengan Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

    Pelaksanaan Pelatihan Di Wilayah Kerja ( PDWK ) yang dilaksanakan oleh Pusdiklat Tenaga Administrasi Badan Litbang dan Diklat bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKatN) Pontianak yang berlangsung selama seminggu penuh dimulai dari Senin (27/09) sampai Jumat (01/10) telah berjalan dengan lancar. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di Hotel Kapuas Palace Pontianak  ini dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi ASN kementerian Agama khususnya di wilayah Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak.

     Pelatihan yang dilaksanakan yaitu Penyusunan Standar Operasional Prosedure (SOP). Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 30 orang peserta yang terdiri dari PNS dan PPNPN yang ada di wilayah Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Pelatihan tersebut dibuka oleh Deden Wahyudin selaku Kepala Subbidang Diklat Teknis Administrasi dan Fungsional Bidang Penyelenggaraan Pusdiklat Tenaga Administrasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dan didampingi oleh Ketua STAKatN Pontianak beserta pejabat Struktural dan pejabat fungsional lainnya.

     Dalam sambutannya Deden Wahyudin antara lain menyampaikan” Pelatihan penyusunan SOP ini sangat penting untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman bagi seluruh ASN Kementerian Agama khususnya di wilayah STAKatN Pontianak agar memahami bagaimana cara SOP dibuat dan disusun dengan baik. Karena SOP itu penting sebagai landasan / pedoman ASN dalam melaksanakan tugas sehari-hari “ 

    “ walaupun kita masih berada dalam suasana pandemi,  namun hal ini semoga tidak mengurangi keseriusan, semangat dan motivasi para peserta semua untuk ikut serta dalam pelatihan inikarena inti dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi sebagai semua ASN diwilayah STAKatN  rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat” imbuh beliau.

    Pelatihan ini dilaksanakan selama 5 hari kegiatan, dan pembelajaran yang diberikan adalah dalam bentuk penyampaian materi, praktik, tugas, maupun ujian akhir pembelajaran. Pembelajaran pada pelatihan ini diberikan oleh Widyaiswara Ahli Madya Pusdiklat Tenaga Administrasi Kementerian Agama RI; Drs. H. Mohammad Tahmid  dan Yulianti Haris dibantu oleh tim panitia pusdiklat tenaga administrasi badan litbang . Pelatihan ini diakhiri dengan kunjungan dari Bapak Drs. H. Syahrul Yadi, M.Si selaku Kepala Kanwil Kemenag KalbarPelatihan yang juga tak lupa menyampaikan pentingnya moderasi beragama khususnya di wilayah Kementerian Agama. Pelatihan yang telah dilaksanakan ini diharapkan akan dapat mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan yaitu peningkatan kualitas dan kompetensi ASN Kementerian Agama yang mampu melaksanakan tugas dengan penuh kompetensi dan profesional.

     

    Foto : Panitia Pelaksana

    Penulis : Tetty Novitasari Simbolon

     

  • PPID STAKAT DALAM SELF ASSESMENT QUESTIONARE

    Sekretariat Jenderal Kementerian Agama bekerja sama dengan Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia dalam kegiatan Self Assesment Questionare di UIN Alaudin Makassar pada 6-7 Agustus 2025. Ini bertujuan untuk membantu Perguruan Tinggi di bawah Kementerian Agama dalam pengisian SAQ e-monev KIP pada bulan September 2025 mendatang.

    Rektor UIN Alaudin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis dalam sambutannya menyampaikan bahwa sejatinya informasi itu telah dilaksanakan hanya saja banyak yang tidak terdokumentasi dengan baik. Saat ini, terdata masih banyak Perguruan Tinggi Keagamaan yang masih belum informatif. Itulah mengapa, STAKat Negeri Pontianak juga berusaha untuk memenuhi keterbukaan informasi publik berdasarkan Perki Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Standar Layanan Informasi Publik, Informasi publik mengingat keterbukaan informasi publik ini menjadi hal yang penting sebagai bagian dari transparansi dalam pengelolaan perguruan tinggi.

    Reno selaku Staf Ahli Keterbukaan Informasi Publik RI menerangkan bahwa, Perguruan Tinggi wajib mengumumkan hal-hal yang berkaitan dengan mahasiswa sebagai core dari layanan pendidikan.

  • Workshop Pengembangan Prodi Baru

              Dalam rangka mendukung percepatan transformasi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak menjadi Institut. Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak mengadakan Workshop Pengembangan Prodi Baru yang berlangsung selama 3 hari pada 20 sampai dengan 22 Februari 2024. Workshop ini bertujuan untuk mereview dan mengevaluasi 3 proposal prodi baru sarjana yang akan dibentuk yakni: Prodi Pastoral, Prodi Konseling Pastoral dan Prodi Teologi.

    Kegiatan ini turut mengundang Romo William Chang, OFM.Cap dan Romo Antonius Denny Firmanto Pr. sebagai narasumber dengan tema “Mengembangkan Karya Pastoral Dalam Prodi-Prodi Keagaman Katolik” dan “Mengembangkan Karya Pelayanan Gereja Katolik”. Dalam workshop, Romo Willam Chang mengatakan bahwa setiap prodi harus memiliki kekhasan nya masing-masing.

    “Sarjana harus siap bersaing dengan sekolah lain. Maka kita harus berikan bekal supaya mereka bisa memiliki kualitas dan keterampilan yang praksisnya bisa digunakan di masyarakat. Prodi yang akan kita buka harus terpancar, tidak hanya di dalam Pontianak tapi juga sampai IKN dan Nusantara serta memperhatikan objek forma dan materi yang ada di dalamnya”, tutur Romo William Chang.

     

    Penulis : Angel M.