Berita

  • Sosialisasi dan Pembinaan PPID kepada Tim PPID STAKatN Pontianak

    STAKatN Pontianak menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pembinaan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) pada Selasa, 30 September 2025. Kegiatan ini diikuti oleh tim PPID dengan fokus utama membahas revisi Surat Keputusan (SK) PPID dan penyempurnaan Daftar Informasi Publik (DIP). Dalam sesi pembahasan teknis, tim PPID mengkaji draft revisi SK PPID yang mencakup penyesuaian struktur organisasi, distribusi tugas dan kewenangan, serta mekanisme koordinasi…

  • Rapat Koordinasi Transformasi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Menjadi Institut Agama Katolik Negeri Pontianak

    Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak kembali mengadakan rapat koordinasi transformasi.. Rapat ini dibagi menjadi 2 sesi; yang pertama Sosialisasi Petunjuk Teknis Pemilihan Ketua yang dipaparkan secara langung oleh Direktur Pendidikan Katolik, Albertus Triyatmojo, S.S., M.Si. melalui Kasubdit Pendidikan Tinggi Yuvensius Sepur, S.Fil., M.Si. Juknis Pemilihan Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diatur dalam Kepdirjen Bimas Katolik Nomor 194 Tahun 2025. Ada beberapa tahapan dalam pemilihan Ketua, yang pertama penjaringan bakal calon. Pegawai yang memiliki gelar Doktor, minimal pangkat III/b, Lektor Kepala, maksimal berusia 60 tahun dapat mendaftarkan diri menjadi bakal calon Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Setidaknya harus ada sekitar 5 orang pendaftar atau jumlah pendaftar ganjil dalam seleksi Ketua.

    Tahap Kedua adalah pemberian pertimbangan. Daftar nama bakal calon Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diserahkan ke Uskup setempat untuk diberikan rekomendasi. Itulah mengapa, taat pada Uskup menjadi syarat khusus dalam penyeleksian. Pemerintah dalam hal ini Bimas Katolik tetap taat dan terus bekerja sama pada Magisterium Gereja. Tahap Ketiga yaitu penyeleksian dengan format penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Senat Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Yang terakhir adalah penetapan dan pengangkatan oleh Menteri Agama Republik Indonesia.

    Direktur Pendidikan Katolik, Albertus mengatakan bahwa Perguruan Tinggi memiliki peran strategis dalam mencerdaskan bangsa. Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dosen dengan jabatan akademik Lektor Kepala perlu diutamakan, sebab ini merupakan syarat mutlak dalam pemilihan Ketua. “Organisasi seperti Perguruan Tinggi membutuhkan orang-orang yang bisa diandalkan untuk menggerakkan organisasi dalam hal ini pemimpin yang sesuai agar mampu menciptakan pendidikan yang berkualitas sehingga menjadi kebanggan tersendiri bagi organisasi bahkan masyarakat,” sambung Albertus.

    Setelah sosialisasi juknis pemilihan Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, sesi dialnjutkan dengan rapat koordinasi transformasi. Kali ini rapat diadakan bersama Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana, Dr. Drs. Nur Arifin, M.Pd. Mengawali rapat, Kepala Biro Ortala mengaitkan sejarah BPUPKI yang membahas konsep dasar negara, termasuk hubungan agama dengan negara yang kemudian dikelola oleh Kementerian Agama.  Termasuk didalamnya pembentukan sekolah keagamaan yang dinilai lebih netral dan moderat daripada pesantren kala itu. “Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak diharapkan dapat melahirkan umat Katolik yang mampu berpikir moderat dan tidak ekstrem serta menghargai antar umat beragama”, tutur Arifin.

    Rapat dilanjutkan dengan pembahasan kebijakan dan strategi Kementerian Agama (Kemenag) terkait transformasi kelembagaan PTKN, termasuk penyederhanaan birokrasi, landasan hukum, paradigma penataan Pendidikan Tinggi Keagaman, tahapan pengembangan, serta persyaratan detail untuk perubahan bentuk kelembagaan.

    Beberapa poin dalam tahapan pengembangan PTKN adalah perlunya penguatan kapasitas dan tata Kelola. Artinya, Perguruan Tinggi perlu fokus pada pemenuhan infrastruktur dasar, standar nasional pendidikan, pengembangan jejaring internasional, serta peningkatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan dengan Bahasa internasional. Tahap kedua yaitu unggul nasional dengan kriteria terpenuhinya kriteria Perguruan Tinggi yang unggul, mandiri, dan akuntabel, menjadi pusat kajian keagamaan berbasis Moderasi beragama, menduduki peringkat 100 besar perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, dan mendapat akreditasi unggu. Tahap ketiga yaitu rujukan dunia. Untuk mencapai ini Perguruan Tinggi harus unggul dalam riset yang diakui dunia akademis dan internasional serta mampu menjadi role model bagi pusat pengembangan kerukunan umat beragama. Tahap keempat yakni daya saing. Perguruan Tinggi harus memiliki jaminan mutu yang terdapat pada seluruh aspek akademik mapupun non akademik, joint research, pertukaran dosen, joint committee of international conference, dan joint research publication.

    Lalu bagaimana hasil evaluasi terhadap Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak yang sedang berupaya menjadi Institut? Menurut PMA 13 Tahun 2024, ditemukan bahwa Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak telah memenuhi standar minimal untuk kualifikasi dosen, kepangkatan akademik, jumlah mahasiswa, jenis program studi, akreditasi prodi, serta sarana dan prasarana (termasuk lahan yang tersedia untuk menjadi Institut). Namun, ada beberapa catatan yang belum terpenuhi yaitu, rasio jumlah dosen dan mahasiswa ilmu agama. Rasio saat ini 1:30 sedangkan standar minimal untuk Katolik adalah 1:20. Namun, proses transformasi akan terus dioptimalkan dibawah pembinaan dan pengawasan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik dan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama.

  • PPID STAKAT DALAM SELF ASSESMENT QUESTIONARE

    Sekretariat Jenderal Kementerian Agama bekerja sama dengan Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia dalam kegiatan Self Assesment Questionare di UIN Alaudin Makassar pada 6-7 Agustus 2025. Ini bertujuan untuk membantu Perguruan Tinggi di bawah Kementerian Agama dalam pengisian SAQ e-monev KIP pada bulan September 2025 mendatang.

    Rektor UIN Alaudin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis dalam sambutannya menyampaikan bahwa sejatinya informasi itu telah dilaksanakan hanya saja banyak yang tidak terdokumentasi dengan baik. Saat ini, terdata masih banyak Perguruan Tinggi Keagamaan yang masih belum informatif. Itulah mengapa, STAKat Negeri Pontianak juga berusaha untuk memenuhi keterbukaan informasi publik berdasarkan Perki Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Standar Layanan Informasi Publik, Informasi publik mengingat keterbukaan informasi publik ini menjadi hal yang penting sebagai bagian dari transparansi dalam pengelolaan perguruan tinggi.

    Reno selaku Staf Ahli Keterbukaan Informasi Publik RI menerangkan bahwa, Perguruan Tinggi wajib mengumumkan hal-hal yang berkaitan dengan mahasiswa sebagai core dari layanan pendidikan.

  • Pembinaan Pegawai STAKat Negeri Pontianak: Penguatan Nilai, Pelayanan, dan Inovasi

    STAKat Negeri Pontianak menyelenggarakan kegiatan pembinaan pegawai pada tanggal 28 Juli 2025. Kegiatan ini menggantikan apel pagi yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin. Seluruh ASN STAKat Negeri Pontianak berkumpul di ruang microteaching untuk mendengarkan pemaparan dari Ketua dan jajaran pimpinan.

     

    Dalam pembinaan tersebut, terdapat beberapa poin penting yang disampaikan:

    1. Pembentukan Koperasi Pegawai

    Kepala Bagian AUAK, Andreas Alsandriata, menyampaikan rencana pembentukan koperasi pegawai. Koperasi ini diharapkan dapat memberikan kepastian izin bagi para pedagang yang berjualan di lingkungan kampus. Selain itu, koperasi akan menjadi sarana penyimpanan uang bagi pegawai, sehingga ketika memasuki masa pensiun atau mengalami mutasi, mereka dapat menarik tabungan yang telah dikumpulkan selama bekerja. Koperasi juga akan memberikan kemudahan dalam bentuk pinjaman dana perjalanan dinas, sehingga tidak memberatkan pegawai.


    2. Penguatan Pegawai

    Ketua STAKat Negeri Pontianak, Sunarso, memperkenalkan lima CPNS IKN yang sementara ditempatkan di kampus. Mereka diperbantukan pada beberapa program studi seperti Konseling Pastoral, Teologi, Pastoral, dan Magister Teologi. Dengan demikian, jumlah pegawai saat ini mencapai 86 orang (81 ASN + 5 CPNS IKN).

    Sunarso menekankan bahwa rasa syukur terhadap kehadiran STAKat Negeri Pontianak harus diwujudkan melalui pelayanan terbaik kepada mahasiswa dan sesama pegawai demi kemajuan institusi.


    3. Menjaga Keberagaman dan Menanamkan Nilai Kekatolikan

    Sebagai kampus yang menjunjung tinggi keberagaman suku dan agama, STAKat Negeri Pontianak dikenal sebagai tempat yang inklusif dan harmonis. Sunarso menegaskan bahwa meskipun terdapat perbedaan latar belakang, kampus harus tetap menanamkan nilai-nilai kekatolikan, mengingat arti “Katolik” yang bersifat universal.

    “Kita adalah keluarga. Maka jangan alergi dengan kata ‘Katolik’, karena artinya universal: ajaran cinta kasih, menjaga lingkungan, dan kesatuan dalam keberagaman. Kita tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tapi juga menanamkan nilai-nilai universal tersebut,” tutur Sunarso.


    4. Penerapan Budaya Kerja Kemenag

    Dalam pembinaannya, Sunarso menguatkan kembali pentingnya menerapkan 5 Budaya Kerja Kementerian Agama. Pegawai dituntut untuk:

    • Beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan informasi

    • Berinovasi dalam keterbatasan

    • Menjaga integritas sebagai ASN

    • Menjaga konsistensi antara ucapan dan tindakan

    Ia menekankan pentingnya integritas akademik, terutama di lingkungan pendidikan tinggi.

    “Dalam survei KPK, masih banyak yang menganggap keterlambatan, menyontek, dan plagiasi sebagai hal biasa. Padahal, ini adalah bentuk ketidakdisiplinan akademik. Yang terpenting adalah kontribusi dan pengalaman yang bisa dibagikan dalam tulisan, bukan seberapa tebal halaman karya tulis,” ujarnya sambil membagikan pengalamannya saat menyusun tesis di Jepang.

    Memberi teladan akademik melalui kejujuran, menurutnya, adalah hal tersulit namun paling efektif dalam mendidik mahasiswa.


    5. Dukungan Beasiswa dan Penelitian

    STAKat Negeri Pontianak memberikan dukungan terhadap pengajuan beasiswa pendidikan dan penelitian, terutama yang didanai oleh pihak eksternal. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi keterbatasan dana penelitian yang terpangkas pada tahun 2025. Penelitian diharapkan dapat meningkatkan kerja sama dan kompetensi mahasiswa.


    6. Optimalisasi Hari Jumat untuk Pembinaan dan Diskusi

    Menyesuaikan kebijakan Work From Anywhere (WFA) dari Kementerian Agama, kampus tetap berkomitmen menjaga pelayanan terhadap mahasiswa. Oleh karena itu, hari Jumat dimanfaatkan secara khusus untuk:

    • Penyelesaian tugas administrasi dosen

    • Diskusi penelitian dan pengabdian

    • Pembinaan rohani (melalui Misa)

    • Bimbingan terhadap mahasiswa


    7. Pengembangan Mata Kuliah Umum

    Ketua STAKat mendorong Kaprodi dan dosen mata kuliah umum untuk merancang materi yang tidak hanya teoritis, tetapi juga memperkuat keterampilan profesional mahasiswa. Dosen dianjurkan mendesain mata kuliah dengan nilai tambah keahlian, yang berguna di dunia kerja.


    Penutup

     

    Kegiatan pembinaan ini tidak hanya bertujuan memperkuat struktur organisasi, tetapi juga memperdalam semangat pelayanan, kolaborasi, serta pembentukan budaya akademik yang sehat dan bernilai universal.

  • Dies Natalis Ke-8 STAKat Negeri Pontianak: Membangun Sinergi untuk Transformasi Berkelanjutan

    Menyambut Acara Puncak

    Dies Natalis Ke-8 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak dimeriahkan dengan pelbagai rangkaian acara selama satu minggu sebelum acara puncak. Kegiatan yang di ketuai oleh Suko, M.Pd. ini melibatkan seluruh civitas akademika agar semuanya dapat merasakan suka cita dies natalis ini. Diawali dengan berbagai lomba selama dua hari seperti estafet getah, estafet air, kereta bola, memasukan bola dalam gelas, dilanjutkan juga dengan kegiatan kerja bakti dan jalan santai pada 15 Januari 2025. Tidak lupa juga salah satu wujud syukur, kampus mengadakan aksi kemanusiaan berupa donor darah, anjangsana, hingga kunjungan ke panti asuhan St. Hieronimus, MSA Pontianak. Dalam kunjungan ke panti asuhan, dana maupun barang-barang keperluan panti dikumpulkan bersama mahasiswa, dosen hingga tenaga kependidikan.

    Orasi Ilmiah

                Tak hanya itu, untuk memajukan keilmuan mahasiswa/i jSekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak maupun peserta yang hadir tentu saja kampus mengadakan orasi ilmiah. Kegiatan ini turut mengundang Romo Albertus Bagus Laksana, SJ yang merupakan Rektor Universitas Sanata Dharma. Dalam kesehariannya beliau mengajar beberapa matakuliah seperti, Teologi Agama-Agama dan Komparatif, Yesus Kristus, Tritunggal dan Keselamatan, serta beberapa mata kuliah keagamaan lainnya. “Sinergi dan Transformasi Pendidikan Tinggi Katolik di Indonesia: Arah, Peluang, dan Tantangan” menjadi materi yang dibawakan oleh Romo Bagus. Materi ini membuka wawasan peserta akan kebijakan Pendidikan Tinggi, bagaimana arah Perguruan Tinggi zaman ini, bagaimana melahirkan lulusan yang unggul, dan pemaparan akan situasi Pendidikan Tinggi Indonesia yang sebenarnya hal ini tidak hanya membuka pandangan peserta saja melainkan juga STAKat sebagai Perguruan Tinggi untuk lebih bersemangat membangun lulusan yang mampu bersaing di era global melalui dukungan moril dan keterbukaan terhadap pengembangan skill atau kemampuan kerja lainnya terutama dalam digitalisasi. Dalam beberapa kesempatan, Ketua STAKat Negeri Pontianak selalu mengutarakan bahwa lembaga selalu mendukung mahasiswa tidak hanya dalam bidang akademis tetapi juga non akademis demi mengasah kemampuan peserta didik.

                Selain Romo Bagus, Orasi Ilmiah juga mengundang Prof. Eusabinus Bunau, S.Pd., M.Si., Ph.D. yang merupakan dosen FKIP UNTAN. Beliau memilih judul materi “Isu-Isu Pendidikan Nasional dan Sinergitas Antara STAKATN Pontianak, Gereja, dan Pemerintah Menuju Transformasi Pendidikan Berkelanjutan” yang menurut beliau ‘pas’ dengan tema dies natalis kali ini yaitu “Membangun Sinergi Menuju Transformasi Berkelanjutan”.

    Acara Puncak dengan Misa Syukur dan Ramah Tamah

                Acara puncak dies natalis ke-8 dengan agenda Misa syukur diselenggarakan pada 17 Januari 2025 di Gedung Praktik Liturgi. Misa dipersembahkan oleh Mgr. Agustinus Agus bersama konselebran RP. Athanasius Nandung, OFMCap. selaku Romo rekan Paroki St Sesilia Keuskupan Agung Pontianak dimana STAKat Negeri Pontiak masuk wilayah paroki tersebut, serta beberapa romo yang berkarya di Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak RP. Gregorius Kukuh Nugroho, CM., RP Mayong Andreas Acin, OFMCap., RP Laurentius Prasetyo, CDD, RP Mikael Dou Lodo, CP., dan RP Dilan, CP. Selain itu, beberapa tamu undangan turut hadir seperti Dirjen Bimas Katolik, Drs. Suparman, M.Si., Pembimas Katolik Provinsi Kalimantan Barat Yosef Somen, S.Ag., Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Kalimantan Barat Dr. Herkulana Mekkaryani, Komunitas Susteran SFD, alumni serta stakeholder lainnya.

                Dalam homilinya. Mgr. Agus menyambut hari ulang tahun Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak dengan pesan kepada seluruh civitas akademika agar mampu bekerjasama membawa umat dalam perjumpaan dengan Yesus seperti dalam bacaan Injil Markus 2: 1-4 teman-teman orang lumpuh yang membawa temannya kepada Yesus agar dapat sembuh.

    “Hal yang diambil dalam bacaan ini adalah kebersamaan dan yang luar biasa adalah iman pada Tuhan. Inilah yang menjadi kekuatan. Iman orang sakit inilah yang menjadi modal dasar untuk sembuh, tidak ada kata putus asa. Iman harus diwujudnyatakan melalui perbuatan dan perjuangan. Maka ketika kalian (mahasiswa/i) ingin lulus cepat maka jangan belajar dengan santai, belajarlah dengan giat serta andalkan Tuhan Yesus, sebab tidak ada artinya jika tidak dekat dengan Tuhan”, ucap Mgr. Agus. Acara puncak kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah di area lingkungan kampus.

    Penulis

    Angel M.

  • Pelaksanaan seminar dan workshop bertajuk “Bangga menjadi Katolik” di Gedung Praktik Liturgi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

    DARI KAMPUS UNTUK DUNIA

    “Generasi Muda sebagai Cahaya Harapan Gereja dan Bangsa”

    Penulis: EUGENIO AGUNG BIMANDARU_Prodi SarjanaTeologi STAKat Negeri Pontianak

     

    Pontianak, 7 Desember 2024 – Dengan semangat menciptakan kader muda Katolik yang militan, kreatif dan berintegritas, Gedung Praktik Liturgi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak menjadi saksi pelaksanaan seminar dan workshop bertajuk “Bangga menjadi Katolik.” Acara yang berlangsung dari pukul 08.20 WIB hingga 17.40 WIB ini, diinisiasi sebagai kolaborasi antara STAKat Negeri Pontianak dan Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Pontianak. Melalui berbagai sesi inspiratif yang diadakan secara daring dan luring, kegiatan ini menjadi wadah refleksi sekaligus dialog untuk menjawab tantangan dan peluang zaman.

    Diawali dengan laporan penanggung jawaban dari wakil ketua III Bapak Lukas Ahen, S.Ag.,M.Pd., yang menggarisbawahi pentingnya keterlibatan generasi muda Katolik menjadi agen perubahan di tengah tantangan zaman kompleks. Acara ini pula guna generasi muda Katolik menjadi lebih tangguh dan berdaya guna dalam membangun Bangsa dan Gereja. “Keterbatasan bukanlah hambatan, melainkan pemacu semangat. Kita hadir di sini bukan hanya untuk berkumpul, tetapi untuk belajar dan berkomitmen menjadi generasi yang membawa perubahan,” sambutan sekaligus membuka rangkaian acara oleh Ketua Bapak Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., ujarnya.

    Seminar ini menghadirkan beberapa tokoh inspiratif, termasuk Dr. Lidya Natalia Sartono, S.PD.,M.Pd (Anggota DPRD Prov KalBar), RP. Gregorius Kukuh Nugroho CM (Pastor Moderator Pastoral Mahasiswa KAP), Geralda Jennifer Odelia (Pemazmur/Konten Kreator), dan Brigjen Pol. Drs. Sumirat Dwiyanto., M.Si. (Kepala BNN Prov. KalBar).

    Pada sesi pertama bersama Bu Lidya dengan tema Bangga menjadi Katolik Berperan bagi Politik Masyarakat, beliau berbagi perjalanan hidupnya yang penuh tantangan hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu figur di dunia poltik. Ia mengutip filsafat Thomas Aquinas, bahwa politik sejatinya bertujuan mewujudkan bonum commune yang artinya kebaikan bersama yang berkelanjutan. Selain itu, Bu Lidya mengatakan ada tiga peran utama mahasiswa yaitu sebagai agen intelektual, agen sosial dan agen perubahan. “Jangan takut bermimpi besar, namun imbangi dengan usaha konsisten. Semua bermula dari iman dan doa, usaha dan proses yang panjang. Percayalah Tuhan merancang jalan hidupmu yang terbaik” pesannya kepada para mahasiswa.

                Romo Greg CM, sebagai moderator Pastoral Mahasiswa menekankan pentingnya fondasi iman yang kokoh sebagai jangkar dalam menjalani hidup. Beliau juga membagikan perikop kitab suci yang menekankan peranan kasih, iman dan harapan serta harus memiliki tujuan hidup sebagai bagian fundamental untuk menghadapi kekhawatiran duniawi, Matius 6:33-34, Markus 11:24-26. Bangga tidak hanya di KTP tetapi bangga juga harus dicerminkan dalam aktualisasi  bagi diri sendiri, Tuhan dan sesama. “Hati nurani dan iman adalah dasar yang mempersatukan dan membimbing kita untuk mencapai tujuan hidup yang lebih besar,” pesannya dalam sesi kedua dengan tema Bangga menjadi Katolik.

                Sesi Ketiga menghadirkan nuansa interaktif dengan kuis dan aktivitas yang melibatkan para mahasiswa/i secara aktif. Kak Jennifer, fasilitator sesi ini, berhasil mengaitkan isu-isu terkini dengan nilai-nilai Katolik, menciptakan suasana yang menarik dan relevan bagi generasi muda. Ia menuturkan bahwa ketergantungan pada dopamin media digital melemahkan fungsi prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab untuk fokus dan mengambil keputusan. Di lain hal,  Mat 28:19-20 menjadi titik emas bagi kak Jennifer untuk menyoroti peluang besar media sosial sebagai ladang misi. “Semua dibutuhkan proses dan jangan pernah mencari like-nya tetapi berilah sesuatu yang adalah kemampuan sendiri sebab konten adalah bentuk pelayanan bukan mengejar popularitas semata” pesannya di penutup sesi.

    Sesi terakhir dengan topik “Generasi Emas Gereja” menyoroti pentingnya membangun kaum muda yang sehat, bebas narkoba, dan unggul demi Indonesia bersinar. Pak Sumirat mengingatkan bahwa menjadi Katolik tidak cukup hanya dalam identitas, tetapi harus terlihat dalam tindakan dan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kita adalah agen perubahan.  Menjadi pemimpin yang memberi warna bukan hanya pengikut yang hilang dalam arus. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan hanya menjadi penonton. Banggalah menjadi 100% Katolik sekaligus 100% Indonesia” seru Pak Sumirat diakhir sesi, mengutip semboyan Mgr. Soegijapranata.

    Kegiatan seminar dan workshop ini telah menanamkan benih perubahan dalam hati generasi muda. Melalui wadah yang disediakan oleh STAKat Negeri Pontianak, dengan dukungan para panitia, setiap sesi dirancang untuk memfasilitasi refleksi mendalam, diskusi kritis, dan inspirasi spiritual. Hal ini mengingatkan bahwa generasi muda sebagai tulang punggung masa depan Gereja dan Bangsa. Sebagaimana Yesus mengajarkan dalam Injil Matius 5:13-16, “Kamu adalah garam dunia…kamu adalah terang dunia,” generasi muda Katolik dipanggil untuk menjadi cahaya harapan di tengah kegelapan dunia. Kaum Muda diharapkan mampu menjaga stabilitas moral dan memancarkan nilai-nilai Kristiani.

    Tongkat estafet yang diwariskan oleh generasi sebelumnya kini diharapkan dapat diterima dengan penuh tanggung jawab oleh generasi muda. Generasi muda diundang bukan untuk menjadi penonton, tetapi sebagai pelaku aktif dalam menciptakan dunia yang bersih, kreatif dan berintegritas. Kegiatan ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi dan Adorasi. Dalam Perayaan Ekaristi ini terdapat pemberkatan pengurus baru KMK dari Universitas Bina Sarana Informatika Pontianak.

     

  • Ketua STAKat Negeri Pontianak dalam Indonesia-Ethiopia Interfaith Dialogue di Addis Ababa.

    Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak yang diwakili oleh Ketua menghadiri kegiatan “Indonesia-Ethiopia Interfaith Dialogue”. Kegiatan yang didukung oleh Indonesia Ethiopia Friendship Club ini akan digelar di Hawassa pada 05 s.d. 08 Agustus 2024.

    Sejumlah anggota delegasi yang hadir pada kegiatan bertajuk Diplomacy of Religious Moderation to Build Interfaith Dialogue ini adalah Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Rosihon Anwar, M.Ag., Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado Dr. Olivia Cherly Wuwung, S.T., Rektor dan Direktur Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. dan Prof. Dr. Relin Denayu Ekawati, M.Ag., Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., Ketua Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri Dr. Sulaiman dan Plt. Kepala Pusat kerukunan Umat Beragama Kepala Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal Dr. Wawan Djunaedi, MA.

    Mereka disambut hangat oleh Duta Besar Al Busyra beserta staf. Dikutip dari Kemenag.go.id,  Duta Besar Al Busyra memaparkan terkait perkembangan Ethiopia yang sudah mengalami banyak kemajuan di berbagai bidang. “Makanya kita harus terus tingkatkan kesadaran tentang Ethiopia maupun Afrika, baik melalui kegiatan langsung seperti dialog maupun publikasi secara intensif,” ujar Dubes Al Busyra.

    Mantan Konjen RI di Houston Amerika Serikat ini pun menyambut baik kegiatan dialog antaragama antara yang menghadirkan tokoh maupun akademisi Indonesia di Ethiopia. Sebab dari dialog ini diharapkan selain bisa meningkatkan toleransi juga membantu merumuskan solusi-solusi atas berbagai konflik keagamaan.

    Dari Ethiopia, peserta dialog termasuk Ambaye Ogato dari Ethiopian National Dialogue Commission, Presiden Ethiopia Adventist College Dr. Abraham Dalu, Dr. Melese Madda dari Hawassa University, dan Muhammed Ali dari Dilla University. Beberapa hari kedepan selama kunjungan berlangsung,  akan diadakan penandatangan MoU antara Perguruan Tinggi Indonesia dengan Ethiopia Adventist College / Kuyera Adventist University, Gondar University dan Madda Walabu University.

    Penulis : Angel M.

  • Rakor Transformasi STAKat: Penguatan Perencanaan Anggaran STAKat Negeri Pontianak menuju Institut Katolik Negeri

    Pembukaan Kegiatan

    Selasa, 16 Juli 2024 STAKat Negeri Pontianak dan Dirjen Bimas Katolik melakukan rapat koordinasi transformasi STAKat Negeri Pontianak di Hotel Golden Tulip Pontianak. Sebanyak 53 peserta yang tergabung antara STAKat Negeri Pontianak dan tim transformasi Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama mengikuti kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk Forum Group Discussion (FGD). FGD diketuai oleh Wakil Ketua 1 STAKat Negeri Pontianak, Dr. F. Sutami. Dalam laporannya, Sutami mengatakan pendidikan tinggi di Indonesia saat ini mendasarkan diri pada pandangan modern dengan titik berat kepada tiga aspek yaitu, kemandirian (autonomy), akuntabilitas (accountability), dan jaminan kualitas (quality assurance). Uuntuk mencapai tujuan mulia tersebut, STAKat Negeri Pontianak akan menyiapakan sumber daya manusia yang unggul serta memiliki daya saing secara nasional bahkan internasional dan tidak dapat dipungkiri dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang handal.

    Secara khusus FGD ini bertemakan Penguatan Perencanaan Anggaran STAKat Negeri Pontianak menuju Institut dan Universitas Katolik Negeri. Untuk itu, STAKat turut mengundang Kementerian PPN/Bappenas dan Biro Perencanaan Kementerian Agama untuk memberikan paparan mengenai dukungan anggaran pada Perguruan Tinggi.

    Fokus Pembangunan Tahun 2025

              Dirjen Bimas Katolik, Drs. Suparman, S.E., M.Si. yang membuka secara resmi kegiatan ini mengingatkan kembali tentang penyelesaian pakta integritas Dirjen Bimas Katolik dengan Menteri Agama, Yaqut Cholil Quomas yang salah satunya adalah program transformasi STAKat menjadi Institut yang ditargetkan selesai sebelum Oktober 2024. Tahun 2025, Dirjen Bimas Katolik akan memotong anggaran untuk pertemuan-pertemuan dan fokus pada pembangunan infrastruktur STAKat dan SMAK, terutama untuk wilayah 3T. “Para pejabat eselon 1 dan 2 telah diingatkan kembali oleh Menteri mengenai pakta integritas terkait bantuan masyarakat yang telah di serahkan, begitupula untuk perubahan bentuk STAKat ini. Pak Menteri menyampaikan agar kita bersama mengawal marwah dari Kementerian Agama dengan anggaran yang telah ditetapkan supaya dirasakan seluruh masyarakat.”, ujar Suparman.

              Sebelum acara pembukaan berakhir, Romo Laurentius Prasetyo, CDD memimpin seluruh peserta dalam doa. Kemudian, Ketua STAKat Negeri Pontianak, Dr. Sunarso, S.T., M.Eng. memulai FGD dengan pemaparan desain pengembangan STAKat Negeri Pontianak. Ketua memaparkan bahwa perlu adanya perluasan akses Pendidikan yang berkualitas dengan biaya yang terjangkau bagi umat Katolik. Maka dari itu, STAKat hadir untuk membantu Pendidikan Katolik di Indonesia dan baik pula apabila STAKat dapat berkontribusi bagi peningkatan IPM Kalimantan Barat. “STAKat ingin berkontribusi terhadap pembangunan IPM di Kalimantan Barat. Caranya adalah melalui pengembangan kampus ini menjadi Institut bahkan Universitas. Regulasi juga menuntut semua Perguruan Tinggi harus menjadi badan layanan umum”, sambung Ketua. Ketua mengatakan setidaknya ada 11 ruangan yang urgent untuk dibangun mengingat ada 3 tambahan prodi baru untuk program sarjana. Total kebutuhan ada 30 sarana prasarana.

    Namun, hal ini mendapat tanggapan dari Direktur Kemen PPN/Bappenas, Andri N.R. Mardiah, Ph.D. Beliau mengatakan bahwa akan lebih baik jika STAKat mencari hibahan tanah dari Pemda Kubu Raya dan menitikberatkan pembangunan sarana prasarana yang lebih esensial seperti gedung kelas bukan gedung pertemuan kecuali gedung auditorium tersebut memiliki Lab untuk kegiatan belajar mahasiswa. Beliau menambahkan bahwa pengadaan rusunawa yang STAKat rencanakan dalan desain pengembangan sebaiknya bekerja sama dengan Kementerian PUPR. Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama yang diwakili oleh Kepala Tim Perencanaan Rijal Roihan, mendukung penganggaran sesuai yang diharapkan oleh STAKat Negeri Pontianak apabila diusulkan dengan baik.

     

              Hal lainnya yang menyangkut dasain pengembangan, terkait persyaratan Lektor Kepala untuk perubahan bentuk ini, masih bergantung pada revisi PMA 81 Tahun 2022. Jika menggunakan syarat revisi maka sudah terpenuhi 1 orang yaitu Ketua STAKat sendiri yang masih dalam proses mutasi ke Kementerian Agama dari Kemendikbud serta 1 orang dosen lainnya. Kedepannya, STAKat akan melakukan pengembangan besar-besaran secara bertahap baik itu SDM hingga sarana prasarana dengan anggaran yang sudah ditetapkan. 

     

    Penulis : Angel M.

    Editor :  Yusi Kurniati., M.Pd

  • Dosen STAKat Negeri Pontianak, Oktavianey Ajak Mahasiswa untuk Ciptakan Kampus dengan Kultur Saling Menghargai

    Jumat, 26 Juni 2024 lalu, Dosen STAKat Negeri Pontianak, Oktavianey G.P.H Meman diundang untuk menjadi narasumber dalam kegiatan Dialog Interaktif dengan tema Merajut Keragaman Budaya dan Toleransi Beragama dalam Menciptakan Keharmonisan di Kehidupan Kampus .

    Kegiatan yang dilaksanakan oleh BEM IKIP PGRI Pontianak ini juga dihadiri oleh Prof Dr. H. Zaenuddin, MA selaku Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak untuk memberikan materi. Dalam kesempatan ini, Prof. Zainudin mengajak mahasiswa untuk terus saling bertoleransi dan saling menghargai dan menghormati meski memiliki budaya yang berbeda demi menjaga NKRI.

    Oktavianey selaku narasumber mengatakan bahwa kampus harus menciptakan kultur yang saling menghargai dan sebagai generasi muda sikap itu juga harus disuarakan di media sosial. “Kampus itu tempat kita menerima perbedaan. Teman-teman generasi Z walaupun konsen di sosial media, tetap harus selalu mempromosikan keragaman budaya dan mampu merajut perbedaan budaya di Kalimantan Barat. Semboyan bangsa kita Bhinneka Tunggal Ika bermakna kita berbeda-beda tetapi tetap satu. Kampus tempat kita menimba ilmu untuk saling menghargai, bagaimana kampus menciptakan kultur yang saling menghargai. Agama katolik misalnya mengajarkan tentang diskusi kemanusiaan atau toleransi beragama. Sebagai seorang pendidik kita akan menanami modal toleransi, kejujuran dan sebagainya”, ujar Oktavianey.

    Penulis: Angel M.